Kamis, 24 Oktober 2013

Meluap


Ijinkan aku menulis berbanyak kata. Karena aku benar-benar merasa kata-kata yang semestinya tersusun menjadi kalimat yang berbaris-baris dicuri oleh orang. Dengan seenaknya orang itu menuliskannya di layar notebook. Dengan sesukanya memijit-mijit keyboard baik pagi atau siang, bahkan malam ia habiskan hingga benar-benar larut. Tidak memedulikan kedua matanya yang mulai memerah, tulang punggungnya yang mulai menggeliat menahan pegal, dan pundaknya yang mulai berat memikul lelah. 

Sunyi di malam yang tidak lagi berpenghuni pun sama sekali tidak menghentikan ujung jarinya tetap menyentuh permukaan keyboard. Kesunyian justru membuatnya makin mesra dengan kata-kata. Ia menatanya dengan begitu rapi dan cantik. Sama sekali sedikit pun ia tidak mau melewatkan malam romantis bersama ide-ide yang menyarang di otaknya. Sungguh ia begitu lembut mempersilahkan satu demi satu huruf menyusun diri menjadi sebuah kata, lalu mewujud berbaris kalimat dan kisah cerita.

Aku benar-benar marah melihat apa yang ia lakukan. Sesukanya menyajikan kata-kata, dan semua orang begitu menikmatinya. Itu kah malam romantis? Yang selalu ada cipta kisah yang indah?

Aku benar-benar cemburu menyaksikan ia dan tulisan-tulisannya. Seringkali mengadu domba perasaan dan membuatku makin berkecamuk. Ia benar-benar mencurinya dariku. Semestinya aku yang mengajak kata-kata menari indah di layar monitor. Aku yang mempertunjukkan kepada semua orang bahwa betapa indahnya dirimu: kata-kata yang merenda kisah cerita.




Bumi Jogja, 24 Oktober 2013
@lorongkata 00:20 wib

Minggu, 14 Juli 2013

(repost) Sajak buat Bapak dan Ibu

| Ini Tentang Bapak
Lelaki itu menyengaja,
mampir di pelataran
Oh, kata siapa
Tumpahkan saja semua yang kau bawa
Biar aku tahu,
atau semua orang juga harus tahu
Kalau muaranya hanya satu,
Aku memang selalu merindukanmu



| Sayap-Sayap Milik Bunda
Ada sayap yang selalu mengembang
Namun, yang satu ini selalu mendekap,
Takut mengepak
Tidak logis jika ada burung yang tak mau terbang
Kedua sayap yang melingkariku
Hangat,
Dua sayap indah di mataku
Biarlah terus seperti itu,
Biarlah.

 


Dey Iftinan/ Desiana Nurkholida.
(dimuat dalam Pewara Dinamika UNY edisi April 2013)



Jumat, 18 Januari 2013

Tentang Dalam Hati




Biarkan semua menjadi catatan kecil dalam hati
Berserakan seperti daun-daun yang berguguran kemarin
Seperti itu mungkin lebih baik
Untuk saat ini, juga mungkin esok hari

Biarkan sebagian dari cintaku
Menjadi kepingan-kepingan di hati
Seperti, terseraknya daun-daun yang aku lihat kemarin
Di pinggir-pinggir jalan,
Di halaman rumah yang tak lebar
Kering, namun aku yakin akan menyuburkan

Tentang aku saat ini,
Merapuh tiba-tiba
Retak seperti tanah-tanah kekeringan
Lapuk layaknya bebatuan digerus air

 (Dey Iftinan)


*Telah dimuat di Majalah Pewara Dinamika UNY, Edisi November 2012


Kamis, 17 Januari 2013

Rindu Lagi

Dalam rinai hujan
Aku meringkuk membeku,
Menahan rindu pada bunda
Ingin menegak sayang ayahanda
Tubuh ini basah bukan karena titik air hujan
Tapi rintikan tangisan hati,
Yang jatuh membasahi diri
Dalam erangan angin sore
Aku menatap diri,
Se –durhaka itukah aku?
Hingga berbulan-bulan tak menampakan diri,
Di hadapan bunda
Se-tega itukah aku?
Hingga beribu waktu tak menyandarkan diri
pada bahu ayahanda
Hujan dan bayu menghakimi diriku,
Meluruhkan hati yang telah dibalut rindu
Rindu tiada henti pada insan terkasihi

“Rindu lagi”
@ Puskom, lt.2 15;07 wib
Yogyakarta, 19 Mei 2010


Cermin Diri

Entah kini kita seperti apa,
Hujan yang menerjunkan diri
Awan yang melayang-layang
Juga sinar matahari temaram di senja kemarin,
Tidak mau mengabarkannya
Cantik kah? Rupawan kah? Sholih kah?
Mana yang lebih penting?
Entah esok kita menjadi apa,
Perilaku, tabiat
moral, izzah
sudah berlalu dibawa angin
yang kita pegang erat-erat adalah harta
yang kita peluk mesra adalah jabatan
entah apa yang sekarang kita pikirkan,
bukan lagi akhlaq, iman
apalagi kesaksian kita kepada Allah: sudah tergadaikan!
Tapi kita berpura-pura lalai
Atau... melalaikan?
Biarlah... hujan, awan, dan matahari enggan mengabarkan
Karena seperti inilah kita : saat ini
Berpura-pura tidak tahu, dalam kejahilan


-dey
Edited: 17 Februari 2012








Mungkin Catatan yang Keempat




Salah satu ciri seorang muslim yang baik adalah memaafkan kesalahan saudaranya . Rasulullah saw pernah bilang seperti itu kan? Cuma, saya lupa bagaimana redaksinya. Lalu bagaimana dengan seorang muslim yang meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafannya kepada saudara-saudaranya? Tentu baik, Allah mengingatkan kita tentang itu. Mm... lagi-lagi saya lupa bagaimana redaksi. Buruk dan payah sekali.

Ya.. Akhir-akhir ini saya dihantui perasaan bersalah. Kesalahan itu entah mengapa serasa terbang mengikuti kemana saja saya pergi.  Tidak hanya satu, mereka berbanyak. Saya seperti daging busuk yang dikerubungi lalat-lalat. Kemana saja daging busuk itu dibawa, lalat-lalat itu mengikuti. Kembali menyerubungi.

Rasa bersalah kepada banyak manusia. Manusia-manusia yang pernah ada dan sedang hadir dalam kehidupan saya. Manusia-manusia terkasih. Itulah mengapa saya merasakannya, mungkin. Sudah dihaturkan maaf tidak terhitung, sudah dilupakan, dan disembuhkan semua yang pernah menggores masing-masing hati, juga sudah mencoba untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama. Namun, tetap ada kalanya rasa sesal atas kesalahan itu timbul. Meski nantinya akan tenggelam kembali. Sebuah siklus, yang tidak akan pernah berhenti kecuali Allah memberhentikan waktu.

Pernah ada berbilah pedang yang saya hujamkan pada dua tubuh manusia terkasih. Pada masa-masa saya harus bersama mereka setiap waktu, dari bangun tidur hingga saya tertidur kembali. Saya pernah (sedikit) membentak mereka, sering menolak permintaan dan perintah mereka, sering mengeluhkan ketiadadayaan mereka, sering “merampok” uang mereka untuk kepentingan saya sendiri, sering berwajah masam dan marah di hadapan mereka. Ah.. terlalu banyak. Lebih banyak lagi!

Pernah ada banyak mata panah yang saya tancapkan pada tubuh manusia lain. Suatu waktu saya memandang tajam dengan penuh benci, mempertunjukan wajah lusuh, dan hadir di antara mereka dengan mulut yang membungkam. Diam. Tidak berkata apapun.

Ada begitu banyak butir peluru yang saya tembakkan pula pada tubuh manusia lain. Lidah berkata yang tidak seharusnya dikeluarkan, meninggikan suara alias membentak, menyindir tanpa peduli dengan perasaan atau mungkin kondisi hati.

Juga, ada tombak-tombak tajam yang pernah saya lontarkan pada tubuh manusia yang lainnya lagi. Mulut mengatakan sesuatu yang tidak diperkenankan, hingga akhirnya memporak-porandakan bangunan ukhuwah. Atau tidak mau memenuhi hak saudara, menolak permintaannya, membiarkannya meringkuk kesakitan, lupa memberikan perhatian dan hadiah, atau lupa memenuhi hutang serta janji-janji. Sering pula menunda waktu perjumpaan, berkata yang tidak nyata, juga berpura-pura tidak tahu apa-apa akan sebuah keadaan. Bersikap masa bodoh.

Pedang, panah, peluru, dan tombak itu sudah dicabut dan dikeluarkan dari tubuh manusia-manusia malang yang menjadi korban kejahatan saya. Saya coba menyembuhkannya dengan berusaha tidak mengulangi, berusaha untuk mempersembahan pertunjukan bahwa saya ada manusia yang baik, tidak akan pernah lagi menghujamkan pedang, menancapkan panah, menembakkan peluru, dan melontarkan tombak ke tubuh mereka. Akan tetapi saya takut, ragu, dan tidak tahu, apakah luka yang pernah saya buat itu benar-benar telah sembuh? Apakah tidak lagi membuat sakit dan telah hilang bekasnya?

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Ingin benar-benar seperti yang difirmankan Allah dalam surat Huud : 114 itu. Saya ingin selalu menebarkan kebaikan agar tertutup dan terhapuslah semua dosa-dosa.
Wallahua’lam.

Dan, ijinkanlah saya haturkan satu kata.. pada kalian yang pernah tersakiti:
Maaf.

@Kamar Kotak, 2 Januari 2013, 22:34 WIB

Senin, 02 Juli 2012

Catatan yang terserak #1: Malam Pertama

-Sungguh bersyukur, ya Rabb... sampai detik ini aku masih bernafas, merasakan kehadiranMu dan kehadiran sahabat2 yang begitu baik -

Malam pertama di lokasi KKN yang begitu menerkam. Angin kencang terus-terusan menyambangi pohon-pohon di sekitar rumah yang kami tinggali, menimbulkan suara mengerikan. Seperti angin ribut yang ingin memporak-porandakan desa. Kadang sahut-sahutan anjing yang menggogong juga terdengar. Oh.... seraaam!
Tapi, di kamar kotak (ruangan yang sekedar dibatasi dengan triplek: aku bisa mendengar obrolan kamar samping, dan begitu juga sebaliknya. Hm... Intinya, di kamar kotak ini tidak ada kerahasiaan yang tidak terjaga! Xixixi) yang berukuran kurang lebih 5x4 meter ini, aku tidak lagi merasakan semua kengerian malam di negeri baru ini, pucuk Jogja: Kuwon tengah, Pacarejo, Semanu, Gunung Kidul. Selimut tebal berwarna biru dan 5 orang sahabat yang menemani, telah menghangatkanku.  Mengubah dingin menjadi energi yang luar biasa bagiku. Sambil menanti hari esok, hari ke dua untuk melewati malam kedua.
Seharian di hari pertama sebenarnya tidak sibuk-sibuk sekali, hanya saja melelahkan karena banyak perjalanan dan aktivitas dalam rumah, menata ini dan itu. Sampai di kediaman pak Tanu (bapak kami di Pacarejo) sebelum dhuhur, dan tiba waktu dhuhur teman-teman shalat berjama’ah. Yah.. saat itu, lagi-lagi tidak bisa ikut serta L. Tidak mengapa, sudah siklusnya. Rasanya bahagia sekali melihat pemandangan langka seperti kemarin. Hm.. berharap aku bisa menyaksikan dan ikut serta di hari-hari kemudian.

(gambar tidak bisa ditampilkan)
*Mas Danang (kapten Dream Team) jadi imam shalat Dhuhur di hari pertama KKN

(gambar tidak bisa ditampilkan)
*Sujud bersyukur...penuh khusyuk...
Pagi tadi dingin luar biasa, yang menyenangkan adalah angin garang tak lagi datang. Ba’da shubuh langsung aku putuskan mandi, biar pagi-pagi nanti tidak “rempong” mengantri seperti deretan nama berikut: Zheni-Heni-Zahra-Malin-Yuyun. Bisa dibayangkan kalau berada di deretan terakhir?! Aku kehabisan air, dan tidak jadi mandi (tidaaaak!). Sepertinya akan menjadi  rutinitasku dan teman-teman di pagi hari, selain kegiatan ngantri mandi : bersih-bersih, menyetrika baju, dan mencuci baju. Mencuci kali ini menjadi pemandangan yang lucu, mencuci di halaman depan rumah, bersama-sama, di pinggir jalan, kadang jadi tontonan orag lewat gitu yah...
“Kae ki mbak-mbak lagi podho ngopo....?!”
“Nyuci gombalan,mas..!”

*just my imagination. Hehe. Sebenarnya tidak seperti itu kok yang terjadi.  Meski mungkin pada awalnya ada rasa canggung dan malu saat harus mencuci di tempat itu, tapi itu hal yang asyik sekali. Bayangkan saja, kapan lagi ada kesempatan nyuci bareng sahabat di pucuk gunung seperti ini. Hehe.

(gambar tidak bisa ditampilkan)
*Malin... Yuyun... Heni... Bajuku belum kalian cuci! (haha)


(gambar tidak bisa ditampilkan)
*Koordinasi dengan pemuda dan takmir masjid (maaf hanya punggungnya, ini yang ngambil mbak Heni, secara diam2 dan malu2, atas persetujuanku.

Baik... ada banyak agenda yang musti aku dan teman-teman ikut mulai ba’da dhuhur samapi nanti malam: kerja bakti mushola dan pengajian Rasulan. –keep smangat-